McAfee sering jadi pilihan default saat beli laptop baru. Namun, tak lama setelah dipakai, banyak pengguna merasa perangkat justru melambat. Suara sumbang, fan berisik, dan proses misterius mengonsumsi RAM menjadi keluhan umum.

Beban Sistem yang Terlalu Berat

McAfee dikenal sebagai resource hog. Pada perangkat dengan RAM 4GB hingga 8GB, dampaknya langsung terasa. Startup yang biasanya cepat jadi berat. Aplikasi sederhana seperti browser atau Word pun membutuhkan waktu lebih lama untuk membuka.

Pada beberapa kasus, McAfee Endpoint Security bisa mengonsumsi 30-40% CPU meski sistem dalam keadaan idle. Ini bukan sekadar rumor; banyak laporan di forum teknis menunjukkan pola serupa.

Scan Otomatis di Waktu yang Salah

Fitur scheduled scan sering dijadwalkan tanpa pemberitahuan jelas. Hasilnya? Scan intensif berjalan tepat saat Anda sedang bekerja penting atau presentasi. Sistem menjadi tak responsif, dan Anda tidak tahu penyebabnya.

McAfee cenderung mengutamakan keamanan maksimal di atas kenyamanan pengguna. Pendekatan ini valid untuk korporat, tapi tidak selalu cocok untuk pengguna rumahan yang butuh responsivitas.

False Positive yang Mengganggu Produktivitas

McAfee terlalu agresif dalam mendeteksi ancaman. File kompilasi developer, tools sistem administrator, bahkan game modding sering kali dianggap virus tanpa alasan jelas.

Quarantine otomatis membuat file hilang dari direktori asal. Recovery process-nya tidak intuitif. Anda harus menavigasi menu bertingkat, dan bahkan setelah dipulihkan, file sering kali tetap diblokir.

  • File .exe dari proyek Python di-flag sebagai GenericRX trojan
  • Keygen legal untuk software open-source dianggap malware
  • Scripts PowerShell untuk administrasi jaringan dihentikan paksa
Baca:  Kaspersky Vs Bitdefender 2025: Duel Antivirus Terbaik Untuk Laptop Low-Spec

Isu Privasi dan Koleksi Data

McAfee mengumpulkan data penggunaan untuk “peningkatan produk”. Namun, cakupan datanya luas: daftar aplikasi yang dipakai, metadata file, bahkan pola perilaku browsing.

Untuk pengguna yang peduli privasi, ini red flag besar. Data dikirim ke server McAfee secara berkala, dan prosesnya berjalan terus-menerus di latar belakang.

Frustrated user looking at slow laptop

Pesakitan Uninstall yang Legendaris

Ini mungkin keluhan paling viral. Uninstall McAfee melalui Control Panel atau Settings sering gagal. Proses terhenti di tengah jalan tanpa pesan error yang jelas.

Sisa-sisa file dan registry tetap berserakan. Service McAfee masih berjalan meski aplikasi utamanya sudah “dihapus”. Ini bukan bug, tapi desain yang disengaja untuk mencegah malware menghapus antivirus.

Cara Uninstall yang Benar

Gunakan MCPR (McAfee Consumer Product Removal) tool. Ini utility resmi yang benar-benar membersihkan sisa instalasi. Tapi bahkan MCPR pun tidak sempurna; kadang perlu dijalankan dua kali.

  1. Download MCPR dari situs resmi McAfee
  2. Close semua aplikasi McAfee yang berjalan
  3. Jalankan MCPR sebagai Administrator
  4. Restart setelah proses selesai
  5. Verifikasi di Task Manager apakah service masih aktif

Jika masih gagal, masuk ke Safe Mode dan hapus folder McAfee secara manual dari Program Files dan Windows Registry. Hati-hati, edit registry berisiko.

Alternatif yang Lebih Ringan dan Efisien

Windows Defender pada Windows 10/11 sudah cukup baik untuk sebagian besar pengguna rumahan. Integrasinya native, update-nya otomatis, dan footprint-nya minimal.

Untuk yang butuh lapisan ekstra, pertimbangkan:

  • Bitdefender: Deteksi unggul, dampak performa rendah
  • Kaspersky: Meski kontroversial, engine-nya efisien
  • ESET NOD32: Legendaris sebagai antivirus paling ringan

Semua alternatif ini punya opsi uninstall yang bersih dan tidak meninggalkan jejak.

Kesimpulan: Apakah McAfee Masih Relevan?

McAfee bukan produk jelek. Untuk lingkungan korporat dengan kebijakan keamanan ketat, fitur-fiturnya masih berharga. Tapi untuk pengguna rumahan yang mengutamakan responsivitas dan kontrol penuh, McAfee sering kali lebih jadi masalah daripada solusi.

Jika Anda sudah frustasi dan ingin uninstall, lakukan dengan cara benar. Jangan paksa hapus manual tanpa alat khusus; risiko sistem crash lebih besar daripada manfaatnya.

Pilih solusi keamanan yang seimbang: melindungi tanpa menghambat. Privasi Anda, produktivitas Anda, dan kesehatan mental Anda di dunia digital layak dapat prioritas yang sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Apakah iPhone Perlu Antivirus? Mitos Keamanan iOS yang Wajib Diketahui Pemula

Pertanyaan “Apakah iPhone perlu antivirus?” muncul berulang kali di forum dan grup…

Review Malwarebytes Premium: Apakah Perlu Dibeli Bersamaan Dengan Antivirus Lain?

Malwarebytes sudah lama jadi nama familiar di dunia keamanan digital, tapi positioning-nya…

Review Norton 360 Deluxe: Apakah Fitur Mining Crypto-Nya Menguntungkan User?

Bayangkan ini: Anda membeli antivirus untuk melindungi PC dari malware, tapi justru…

Kaspersky Vs Bitdefender 2025: Duel Antivirus Terbaik Untuk Laptop Low-Spec

Laptop dengan RAM 4GB atau prosesor generasi lama punya musuh bersama: antivirus…